Read more: http://ajatshare.blogspot.com/2013/08/cara-memasang-meta-tag-seo-friendly-dan.html#ixzz2xXCDmkL2 za_afdal: Agustus 2014

Rabu, 06 Agustus 2014

Monbukagakusho: Impian, Kepecundangan, dan Dilema.

                 Hal yang sejatinya ingin aku bagi sekarang hanyalah sebuah ketidakmampuanku dalam menanggalkan kepecundanganku terhadap apa yang aku impikan. Seakan itu hanyalah impian yang sifatnya semu, namun pada dasarnya ituah yang paling aku inginkan saat ini. Tidak, itu yang paling aku inginkan semenjak 8 bulan yang lalu dan berakhir hampa begitu saja dalam beberapa minggu yang lalu.
                  Ini semua tentang impian, keputusan, dan kepecundangan. Aku tidak pernah sekalipun menyangka bahwa aku akan mengalami distorsi terhadap apa yang telah aku pikirkan dalam dalam sejak lama. Bagai tersangkut kawat dengan tegangan listrik yang tinggi, aku hanya bisa menggigil dan meringis terhadap apa yang telah aku putuskan terhadap masa depanku. Dan semua berawal pada hari itu…..
Entah apa yang aku pikirkan dan aku menungkan pada siang yang kelabu itu, aku tersenyum pahit mengingat betapa bodohnya diriku yang telah memutuskan untuk mundur dari pertarungan. Apa aku terlalu hiperbolis a.k.a melebih lebihkan kepecundangan yang aku alami…? Kalian bisa menilainya sesaat lagi jika masih bernafsu untuk membaca tulisan ini.
                  6 bulan lamanya selalu ku pandangi halaman web itu. Masih situs itu, tak beranjak sedikitpun. Setiap hari, setiap waktu bila itu terlintas dalam benakku, aku akan berselancar dan mengakses situs yang entah beberapa bulan yang lalu menjadi situs favoritku. Kalian tahu apa….? Silahkan ketik “Monbukagakusho” di Google dan bukalah situs pertama/ paling atas di halaman pertama yang muncul. Setelah itu coba tebak apa yang selama ini tergayut di dalam pikiran ku…
                  Ya, sebuah impian. Aku yang selama ini memimpikan untuk bersekolah di negeri matahari terbit itu, aku yang selama ini memimpikan untuk melihat langsung keindahan sakura mekar pada musim semi, aku yang selama ini memimpikan untuk melihat langsung puncak fuji yang selau diselimuti salju abadi, aku yang selama ini memimpikan berjalan di tengah kerumunan orang orang pekerja keras yang aku  berharap  agar tertular akan semangat mereka yang selalu mengatakan “Ganbarimasu!” atau “ganbatte kudasai!”, dan aku yang selama ini memimpikan untuk menimba ilmu cabang keteknikan bangunan/sipil di negri yang sering di landa gempa tersebut, adalah sama dengan aku yang beberapa minggu yang lalu memutuskan untuk menarik diri dari perjudian dan mencoba berseikap realistis terhadap diri sendiri. Sebuah ironi yang aku renungi di lautan keputus asaan.
                Aku benar benar memimpikannya pada saat itu. Sudah kujelaskan bahwa setiap hari selama 6 bulan aku selalu mengakses situs itu dan berharap pendaftaran untuk keberangkatan tahun berikutnya telah dibuka. Setiap hari yang dapat aku lakukan hanya tersenyum pahit, namun malah seperti diberi sebuah boost setiap kali membukanya seakan semangat ku untuk kesana semakin menggebu.
               5 Mei 2014, hari yang selama 6 bulan aku tunggu akhirnya datang. Ya, pendaftaran telah dibuka dan tanpa basa basi, tanpa pikir panjang aku langsung mendaftarkan diri jalur Online terlebih dahulu.aku mengalami kesulitan karena tidak bisa mengakses Link untuk program D3, dan tanpa sengaja aku terdaftar di program S1 dan itu langsung terkonfirmasi ke alamat emailku. Aku segera mengirim email balasan untuk menanyakan apakah aku bisa menggantinya di program D3. Dan aku mendapat balasan, “Silahkan” aku sangat bergembira membacanya.
              Alasan aku ingin mendaftarkan diri pada program D3 adalah karena saingannya tidak sebanyak S1. Dan aku juga berpikir bahwa orang-orang dengan kemampuan otak diatas rata-rata juga akan saling sikut dalam pendaftaran program S1. Bukannya tidak pede akan kemampuanku, aku memilih mencari jalan aman. Aku mengkalkulasikan peluang ku untuk dipanggil ikut tes tertulis. Dan peluangku lebih besar pada D3. Begitulah. Kemudian bersama satu orang teman aku mengirim formulir pendaftara sebanyak 7 lembar dalam B.inggris ke kantor kedubes jepang di Indonesia bagian pendidikan. Aku begitu lega saat itu. Dan berdebar debar setelahnya mengingat aku telah membuat langkah pertama. Aku berdoa semoga aku dipilih untuk mengikuti tes tertulis pada 2 bulan berikutnya, karena tidak semua pelamar yang mengirim berkas akan dipanggil untuk mengikuti tes tertulis.
             1 bulan berlalu setelah itu. Dan dalam periode 1 bulan itu saya hanya bermalas-malasan sambil menatap layar Hp ku. Aku  telah memasuki masa libur dalam perkuliahan pada saat itu dan aku menemukan web yang sangat menarik. Fanfiction.net.  berjam jam bahkan berhari hari ku pandangi dan ku baca satu persatu cerita yang nangkring disitu dan itu sangat memuaskan untuk dibaca. Imajinasiku benar benar melayang jauh dibuatnya.
           Aku tidak sempat mempersiapkan diri untuk tes tertulis. Walaupun aku telah mengkalkulasikan peluangku untuk dipanggil mengikuti tes, namun aku masih bermalas malasan dalam periode liburan. Aku juga menunggu hasil penjurusan dari kampusku dan itu benar benar membuatku berdebar debar. Beberapa hari setelahnya aku sungguh sangat senang melihat hasil pengumuman nahwa aku terjuruskan pada prodi Teknik Sipil di kampus yang ada di jalan Ganesha no 10 bandung itu, sesuai cita-citaku. Beberapa hari kemudianaku pulang kekampung halamanku di Padang Panjang(Sumatera Barat) karena momen mendekati Ramadahan tentunya dengan membawa kabar gembira untu orang tua tercinta.
               Hampir satu bulan aku dirumah. Dan yang aku pandangi di layar Hp ku setelahnya adalah hasil pengumuman bagi pelamar yang akan dipanggil untuk mengikuti ujian tulis setelahnya. Aku langsung mengecek untuk program D3. Dan sesaat setelahnya aku dibuat kecewa karena tidak menemukan namaku tertulis disana. Iseng iseng, coba ku lihat untuk program S1 untuk melihat hasil temanku. Dan aku hanya membulatkan mata lebar lebar setelahnya setelah mengetahui bahwa namaku terdaftar untuk program S1, tidak seperti yang aku harapkan.
              Ini benar benar sulit bung. Maksudku, ya aku sungguh sangat sulit untuk membuat keputusan setelahnya. Pertimbangannya adalah, jika aku mengikuti tes tulis untuk S1 maka aku akan menghadapi 4 ujian mata pelajaran. Sedangkan pada D3 hanya 2 mata pelajaran. Dan aku malah terdaftar di S1 seperti yg tidak aku harapkan, ditambah lagi aku tidak mempersiapkan apa-apa, dan itu semua benar-benar membuatku membenturkan kepala ke dinding tanda frustasi tingkat dewa.
                       Aku harus membuat keputusan sulit setelahnya. Mencoba mempertimbangkan masak masak untuk menghadapi tes tersebut yang akan diadakan di Medan yang dari kampung halamanku sekitar 20 jam dengan Bus. Aku mengingat kembali masa-masa begitu mendamba kesempatan ini selama 6 bulan. Aku mengingat kembali semangatku yang berkobar setelah mendengar kata “Monbukagakusho”, Aku mengingat kembali tentang keinginanku untuk berkuliah di jepang. Namun, sesaat setelahnya semuanya sirna dipatahkan oleh kata kata yang tergayut di benakku yang berbunyi “Kau benar benar tanpa persiapan, Niatmu juga sudah mulai memudar, tidak ada gunanya kau ikut tes, semua akan sia sia dan hanya akan menghabiskan biaya”
                         Kalimat itu yang membawaku ke jurang kefrustasian setelahnya. Aku benar benar tenggelam di dasar yang paling dalam. Mencoba bangkit dari rasa bersalah atas diriku sendiri, karena akulah yang paling bertanggung jawab atas diriku sendiri.Aku telah mengikhlaskan semuanya beberapa hari kemudian. Benar benar ikhlas, mencoba menghibur diri bahwa biarpun tidak sekarang aku berangkat ke jepang, setidaknya aku akan memburu beasiswa S2 ke sana. Bahkan jika harus memakai uang sendiri, aku akan tetap berusaha untuk mengeyam pendidikan tinggi disana. Setidaknya untuk gelar Magister, bahkan Doctor ataupun Profesor sekalipun.

Ya, InsyaAllah….

              Sesaat kemudian aku menjadi seorang author dengan karya pas-pasan yang mencoba menghibur diri di dunia Fanfiction. Baru 2 bulan aku kenal dunia ini, 1 bulan membaca berbagai karya dan meneliti berbagai aspeknya, bulan selanjutnya aku mencoba membuat karya sendiri. Dan berbagai respon para pembaca benar benar membuatku senang. Setidaknya hari liburku tidak terbuang sia-sia. Hei, aku telah mengasah kemampuan menulisku yang pas-pasan dan menunjukkan karyaku untuk dikomentari oleh orang orang. Yang penting aku mendapati Hobiku yang sekarang dan akan terus menekuninya,

MENULIS!