Tap.. tap.. tap.. suara langkahku yang menghentak menuruni tangga kayu
setinggi 4 meter, berpacu seakan tak mau kalah dengan detak jam dinding yang
berbunyi tik.. tik.. tik… Ku lihat kembali jam tanganku apakah sudah ku
majukan jarum nya 10 menit lebih awal dari jam dinding. Jarum yang saling
meghimpit antara si panjang dan si buncit diantara angka 6 dan 7 pada benda
bulat yang selalu tergayut sebagai penghias dinding itu, seakan memberi tahu,
sekarang aku harus pergi. Ya, matahari kulihat cahayanya di sela sela pagar
tinggi yang juga berfungsi sebagai pintu utama kos-kosan yang aku tempati. Pagar
ku kunci, dan aku pun segera berlari. Langkah harus dipercepat atau aku akan
ketinggalan sesuatu yang selalu dipenuhi oleh orang-orang muda pencari ilmu di perantauan
alias mahasiswa seperti aku.
Ku lihat benda berwarna ungu yang selalu ngetem di ujung gang ditepi jalan kecil beraspal. Selalu ku baca tulisan yang ada di kaca depannya yang berbunyi “cisitu-tegallega’’. Kadang kadang deselingi dengan tulisan ‘’pasar baru”, “cihampelas” atau apalah. Yang jelas pada bagian belakangnya tidak ada tulisan “ku tunggu jandamu”, atau mungkin gambar pak Harto yang berkata “pie kabar e? enakkan jaman aku toh..” . Jelas saja, ini bukan truk gandeng, tapi sebuah angkot yang sudah seperti “mobil pribadi” bagi ku. Mobil pribadi yang supirnya selalu berbeda. Ya, sebut saja sebuah angkot yang akan menghantar ku ke jalan sumur Bandung. Setelah itu aku hanya harus berjalan sekitar 300 meter agar sampai di kampus yang selalu aku dambakan sejak dahulu. Atau jika aku bangun lebih pagi dari biasanya, aku bisa berjalan dari kos ke kampus yang jaraknya kurang lebih satu setengah kilometer. Jika sudah begitu, tak ada hal lain yang terjadi sesaat setelah duduk di kelas selain ku jumpai sandaran ku telah basah oleh keringat punggung. Benar sekali, ini kampus impian setiap anak Indonesia yang ingin menguasai berbagai cabang ilmu teknologi terutama keteknikan. Kampusnya putra sang fajar, sang proklamator Indonesia Ir. Soekarno menamatkan program studi teknik sipilnya.
Ku lihat benda berwarna ungu yang selalu ngetem di ujung gang ditepi jalan kecil beraspal. Selalu ku baca tulisan yang ada di kaca depannya yang berbunyi “cisitu-tegallega’’. Kadang kadang deselingi dengan tulisan ‘’pasar baru”, “cihampelas” atau apalah. Yang jelas pada bagian belakangnya tidak ada tulisan “ku tunggu jandamu”, atau mungkin gambar pak Harto yang berkata “pie kabar e? enakkan jaman aku toh..” . Jelas saja, ini bukan truk gandeng, tapi sebuah angkot yang sudah seperti “mobil pribadi” bagi ku. Mobil pribadi yang supirnya selalu berbeda. Ya, sebut saja sebuah angkot yang akan menghantar ku ke jalan sumur Bandung. Setelah itu aku hanya harus berjalan sekitar 300 meter agar sampai di kampus yang selalu aku dambakan sejak dahulu. Atau jika aku bangun lebih pagi dari biasanya, aku bisa berjalan dari kos ke kampus yang jaraknya kurang lebih satu setengah kilometer. Jika sudah begitu, tak ada hal lain yang terjadi sesaat setelah duduk di kelas selain ku jumpai sandaran ku telah basah oleh keringat punggung. Benar sekali, ini kampus impian setiap anak Indonesia yang ingin menguasai berbagai cabang ilmu teknologi terutama keteknikan. Kampusnya putra sang fajar, sang proklamator Indonesia Ir. Soekarno menamatkan program studi teknik sipilnya.
Tas sandang pemberian ibu aku letakkan disebelah kursi,
sedikit ku arahkan kebawah tempat duduk, atau tidak, aku hanya akan mendapati
tas berharga tersebut diinjak-injak oleh teman teman yang lalu lalang. Perlahan ku
buka resleting tasku, dan aku keluarkan benda yang tak asing lagi. Sebuah buku
tulis hitam dengan logo kampus gajah duduk pada sampulnya. Tak lama setelah itu
dosen pun datang. Telah siap dengan materi materi yang akan ia sampaikan dan
mulai memasangkan kabel proyektor pada port USB laptop yang ia bawa. Slide demi
slide keluar seirama dengan kata kata yang keluar dari mulut seorang pemberi 5
alfabet pada rapor mahasiswa. Akupun ingat seseorang pernah berkata, “ jika
engkau tidak mendapat nilai A, masih ada 25 huruf lainnya yang bisa kau dapat
pada alphabet”. Benarkah demikian. Apakah itu yang aku inginkan?
Hambar… ya, semua terasa hambar. Aku tidak merasakan sesuatu
yang istimewa pada hidupku. Begitu pula materi yang sedang aku dengarkan
sekarang. Sama sekali tidak menarik. Lamunanku terbang jauh berjalan tak senada
dengan pulpen yang ku mainkan di tangan kiriku. Pandangan ku memang mengarah ke
papan tulis, namun yang kulihat sejatinya tidak ada disana. Sesaat kemudian
muncul pertanyaan dalam otak yang hanya ku pakai bila musim UTS tiba, dengan
klise otak ku menerawang jauh ‘apakah ini jalan yang tepat bagiku?’….
“Woi… manuang jo
karajo lae afdal, buk dosen lah mancaliak caliak sajak tadi tu ha, beko kanai
malapetaka wak ndak tau do lah..haha”. (woi, jangan melamun aja afdal, bu
dosen telah memperhatikan kamu, kalau terjadi malapetaka saya tidak tahu
menahu.. haha)
setengah berbisik pemuda 20 tahun asli pariaman yang biasa di
panggil Arfan itu mengucapkan beberapa patah kata padaku. Aku siuman dari
lamunanku. ”handeh, lah tabang wak tadi a, yo bana tu?”,,,(aduh, beneran?)
“Ehem…. Mas yang
berkemeja putih yang di tengah, coba anda jelaskan kembali konsep asam- basa
yang barusan saya jelaskan”….Hening… darah ku tersirap dibuatnya, jantung ku
berdegup cepat tak karuan, benar saja, aku langsung dapat permintaan ‘istimewa’
dari perempuan paruh baya yang berdiri di depan kelas.
Tanpa tahu apa yang harus ku perbuat, aku menguatkan hati
melangkahkan kaki dari tempat duduk kayu yang dipernis itu menuju papan tulis.
Kapur-Kapur yang berserakan di sela sela papan hitam persegi panjang itu seakan
menertawakan wajah ku. Wajah panik, wajah bodoh, wajah ketakutan, wajah menahan
hajat (lho?), semuanya mengalami fusi. Tanganku bergetar, ku raih kapur
itu. Kemudian ku pilih warna apa yang aku sukai. Kenapa juga aku harus
melakukan hal itu pada situasi dimana aku tidak bisa menghadapkan wajahku
kecermin.
“dreeettt..”dengan pelan goresan pertama ku mulai dalam ikhwal
menulis salah satu rumus kimia suatu larutan. Dingin, aku bisa merasakan keringat
dingin mulai mengucur dari pelipis kanan. Goresan demi goresan aku buat
perlahan sambil memikirkan kata kata apa yang akan aku pilih perihal
menjelaskan nantinya.
“cukup…..jam ibu sudah habis, ibu harap kalian semua mengerti,
dan sampai jumpa jam pelajaran selanjutnya”. Semuanya membalas, “oke buk”…
situasi berubah.
keheningan hanya ada padaku, tok ...kapur di tanganku dengan spontan jatuh ke sela sela papan, dan setelah semuanya… Akulah orang yang paling bahagia di kelas kimia tersebut. Aku menghela nafas panjang, dan bahu yang tadi kaku mulai turun kembali ke bentuk normalnya. Namun setelah itu aku menundukkan kepala dan melayangkan pertanyaan kepada diri sendiri, “Kenapa bisa seperti ini?”
keheningan hanya ada padaku, tok ...kapur di tanganku dengan spontan jatuh ke sela sela papan, dan setelah semuanya… Akulah orang yang paling bahagia di kelas kimia tersebut. Aku menghela nafas panjang, dan bahu yang tadi kaku mulai turun kembali ke bentuk normalnya. Namun setelah itu aku menundukkan kepala dan melayangkan pertanyaan kepada diri sendiri, “Kenapa bisa seperti ini?”
Ada banyak pertanyaan yang secara bertubi tubi merajam kepala
ku dan aku dibuat kusut olehnya. Tanpa ada jawaban yang pasti, hal itu lah yang
menimbulkan berbagai kecemasan. Ah, kebahagiaan yang tidak seperti dulu lagi.
Kebahagiaan seakan malas untuk hinggap di jiwaku. Aku mengingat kembali
masa-masa itu. Ya, aku bisa menyebutnya sebagai puncak karier ku sebagai
seorang pelajar. Apa yang dirasa dahulu sekarang sudah tiada. Hampa, Ya,
semuanya kosong. Sekarang orang-orang bisa menyebutku sebagai seseorang yang
terdampar di kota kembang ini. Tersesat dan hidup dalam kesendirian. Kemanakah
tempat bertanya?, tempat berberita?, disaat orang tua berharap lebih
kepadaku?...
Sebagai satu-satunya alumni SMA yang berkuliah disini, aku
merasa buta akan petunjuk. Aku iri melihat teman-teman sejawatku dengan
mudahnya akrab berbicara berbagai hal dengan kakak tingkatnya semasa SMA dulu.
Mereka berdiskusi dunia perkuliahan, dunia non akademik, cara hidup sebagai
mahasiswa, dunia pekerjaan dan hal-hal yang bisa disebut sebagai petuah yang
bisa dijadikan sebagai pegangan oleh ‘anak baru’ seperiku. Haaaah, rasanya
ingin sekali mendengar apa yang mereka dengar dan bertanya sekehendak hati, sekehendak perut kalau bisa.
Tapi, kepada siapa kalimat -kalimat bertanda seru (?) ini aku sampaikan?....
( bertanda tanya woiii, arrrghh)
(ah, ane nggak peduli....)
( bertanda tanya woiii, arrrghh)
(ah, ane nggak peduli....)
Pertanyaan demi pertanyaan muncul. Jika pertanyaan
baru muncul maka pertanyaan lama menghilang tanpa tahu apa jawabannya. Ku coba
kembali mengumpulkan berbagai macam hal yang tidak aku tahu jawabnya itu, dan
ku simpan rapat rapat dalam hati. Berharap suatu saat nanti aku menemukan
jawabnya. Ya, entah kapan, tapi akan aku cari. Aku terus menundukkan kepala
menuruni tangga gedung perkuliahan. Bahkan setelah sampai di jalan datar pun
aku masih tertunduk diam. Aku mencoba menyembunyikan kefrustasian ku kepada
semua orang. Bahkan sampai bulan ke-6 aku disini, aku masih belum menemukan
suatu resolusi.
Ya, pengubah bara jadi api, gejolak menjadi semangat,
keinginan menjadi tekad dan makanan jadi hajat (itu nggak ada hubungannya bung!!!).
Ah pokoknya semacam itu lah,(anda yang jelas dong kalau menulis), emang masalah ente apaan? tulisan ane yang buat kok....(lho.. kok nyolot, saya kan cuma ngasih saran!), saran saran, ente malah ngajak ribut dari tadi, berantem aja yuk di SARAGA,! (ayooookkkkk,emangnya saya berani apa...), ah, banyak alesan ente,,,hyaaaaaaaaaaaa*menonjok...
(@$#^%$^%&*^%##bg!#23???/)
(@$#^%$^%&*^%##bg!#23???/)
*setengah jam kemudian
(oh, maksudnya motivasi…). Ya, itu, sebuah
motivasi. (oh, bilang dong dari tadi…). Bahkan sekarang aku seperti
orang gila yang mengajak duel dirinya sendiri. Benar-benar kacau.
Hingga pernah terlintas dalam benakku yang
dipenuhi oleh jaring laba-laba ini bahwa…… Aku hanya merasakan ‘’hidup’’
sampai umur 17,5 tahun. Setelah itu hanyalah kebohongan dan kesia-siaan belaka.
Terdengar seperti kalimat keputusasaan, namun realita tak
mungkin bisa dikelabuhi. Kemudian kincir-kincir yang ada dalam otakku, ku coba
untuk menggerakannya sejenak. Terasa berat, seperti tak mau berputar, namun
perlahan-lahan berotasi melalui sumbunya. Dan pada akhirnya muncul lah suatu
kalimat yang aku merasa itu seperti mukjizat yang dibawa malaikat. Yang jelas
bukan perintah “bacalah dengan menyebut nama tuhan mu”(Qs.96:1) yang
sekarang tersangkut di kepala ku, jelas saja, kalian kira jibril sudi
mendatangi cecunguk hina seperti ku….?. Tetapi suatu kalimat yang berbunyi “
aku harus melanjutkan hidup ku”. Terdengar ringan, namun karena sebelumnya aku
merasa hanya hidup sampai umur 17,5 tahun, aku patri makna kalimat itu sesuai defenisi ku sendiri. Ya, aku
harus mencari kebahagiaan lain di sini, di kota kembang, dimana ada propaganda “Bandung
Bermartabat” di setiap jalan.
Kulihat kembali jam tangan yang entah KW berapa yang selalu
setia terikat di pergelangan tangan kiri ku, ternyata pukul 11.50. Ya,
panggilan dari masjid Salman sudah mendengung dan itu artinya aku harus
mempercepat langkah. Dengan berat, kepala yang selalu tertunduk tadi coba ku
angkat. “sudah waktunya…..”
Aku pun berlalu memenuhi panggilan dari Sang Maha
Membolak-balikkan Hati Manusia………………………….
Note: “ aing juga bingung…….ah, sudahlah…”
.jpg)